Minggu, 17 Oktober 2010

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN


A.    Teori Kebenaran menurut Pandangan Filsafat dalam Bidang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
1. Ontologi
Ontologi adalah teori dari cabang filsafat yang membahas tentang realitas. Realitas ialah kenyataan yang selanjutnya menjurus pada suatu kebenaran. Bedanya realitas dalam ontologi ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan : apakah sesungguhnya hakikat dari realitas yang ada ini; apakah realitas yang ada ini sesuatu realita materi saja; adakah sesuatu di balik realita itu; apakah realita ini monoisme, dualisme, atau pluralisme. Menurut Bramel, interprestasi tentang suatu realita itu dapat bervariasi.
Di dalam pendidikan,pandangan ontologi secara praktis, akan menjadi masalah yang utama. Membimbing anak untuk memahami realita dunia dan membina kesadaran tentang kebenaran yang berpangkal atas realita itu merupakan stimulus untuk menyelami kebenaran itu. Dengan sendirinya potensi berpikir kritis anak-anak untuk mengerti kebenaran itu telah dibina. Di sini kewajiban pendidik adalah untuk membina daya pikir yang tinggi dan kritis.
2. Epistemologi
Istilah epistemologi pertama kali dicetuskan oleh L. F. Ferier pada abad 19 di Institut of Methaphisycs (1854). Buku  Encyclopedia of Phylosophy, dan Brameld mempunyai pengertian yang hampir sama tentang epistemologi. Epistemologi aalah studi tentang pengetahuan, bagaimana kita mengetahui benda-benda. Contoh beberapa pernyataan yang menggunakan kata “tahu” yang berdeda sumber maupun validitasnya:
a. Tentu saja saya tahu ia sakit, karena saya melihatnya;
b. Percayalah, saya tahu apa yang saya bicarakan;
c. Kami tahu mobilnya baru, karena baru kemarin kami menaikinya.
3. Aksiologi
Aksiologi adalah suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai. Ada 3 bagian yang membedakan di dalam aksiologi, yakni moral conduct, esthetic conduct,dan socio-political life.
Nilai dan implikasi aksiologi dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. Beberapa contoh untuk menilai orang itu baik :
a. Baik, Bu. Saya akan selalu baik dan taat kepada Ibu!
b. Nak, bukankah ini bacaan yang baik untukmu?
c. Baiklah, Pak. Aku akan mengamalkan ilmuku.
B.       Pandangan Filsafat Tentang Hakikat Manusia
Ilmu yang mempelajari tentang hakikat manusia disebut antropologi filsafat. Ada 4 aliran dalam antropologi filsafat, antara lain :
1. Aliran Serba Zat, berpendapat bahwa yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Manusia dan alam adalah materi.
2. Aliran Serba Ruh, berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah
ruh. Aliran ini menganggap ruh adalah hakikat, sedangkan badan hanyalah penjelmaan atau bayangan.
3. Aliran Dualisme, berpendapat bahwa manusia terdiri dari 2 substansi yaitu jasmani
ruhani.
4. Aliran Eksistensialisme, berpendapat bahwa hakikat manusia adalah eksistensi dari manusia. Hakikat manusia adalah ruh sedangkan jasadnya hanyalah alat yang digunakan ruh saja. Tanpa kedua substansi tersebut tidak dapat dikatakan manusia.
Pandangan ini akhirnya memperlihatkan keberadaan manusia secara utuh, bahwa mereka adalah pencari kebenaran.
1. Pandangan Ilmu Pengetahuan tentang Manusia
Aristoteles berpendapat bahwa manusia adalah hewan berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal pikirannya. Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang paling sempurna bila dibandingkan makhluk lain.Karena itu manusia harus menggunakan akal dan inderanya untuk memahami mana kebenaranyang sesungguhnya, atau kebenaran yang dibenarkan. Eksistensi manusia yang padat itu harus dimengerti dan dipikirkan. Manusia aalah makhluk religius, dimana manusia memperlakukan agama sebagai suatu kebenaran yang harus dipatuhi dan diyakini. Amembangun manusia yang sanggup melakukan pembangunan duniawi yang berarti bagi hidup pribadi di akhirat kelak.
2. Kepribadian Manusia dan Pendidikan
Sebelum terjadi proses pendidikan di luar dirinya, manusia cenderung beruaha melakukan pendidikan pada dirinya sendiri, dimana manusia berusahamengerti, dan mencari hakikat kepribadian tentang siapa diri mereka sebenarnya. Dalam prosesnya , peran efektif pendidikan terhadap pembinaan manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan didukung factor pembawaan manusia sejak lahir. Secara umum, tujuan pendidikan adalah untuk membina kepribadian manusia secara sempurna. Pendidikan dianggap sebagai transfer kebudayaan, pengembangan ilmu pengetahuan.
3. Masalah Rohani dan Jasmani
Di dalam diri manusia terdapat 6 rasa menjadi satu, yakni : intelek, agama, sosial, seni, dan harga diri / sifat keakuan. Phytagoras & Diasgenes berpendapat bahwa ruh merupakan satu unsur halus yang dapat meninggalkan badan. Jika pergi dari badan, ruh kembali kea lam yang tinggi, meluncur ke angkasa luar dan tidak mati. Meskipun setingginya ilmu manusia tidak akan pernah dapat melebihi Tuhan.
C.    Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia
1. Pengertian nilai.
Nilai itu merupakan hasil dari kreativitas manusia dalam rangka melakukan kegiatan sosial, baik itu berupa cinta, simpati, dan lain-lain.
2. Bentuk dan tingkat-tingkat nilai
Tujuan adanya nilai ialah menuju kebaikan dan keluhuran manusia. Pada umumnya masyarakat menganut pewndapat bahwa hierarki nilai dalam kehidupan manusia itu identik dengan hierarki tingkat-tingkat kebenaran, sebab kebenaran ialah nilai itu sendiri.
3. Nilai-nilai pendidikan dan tujuan pendidikan.
Untuk menerapkan tujuan pendidikan dasar harus melalui beberapa pendekatan seperti
1). Pendekatan melalui analisis histories lembaga-lembaga sosial.
2). Pendekatan melalui analisis ilmiah tentang realita kehidupan aktual.
3). Pendekatan melalui nilai nilai filsafat normative (normative philosophy).
Sedangkan tujuan pendidikan Indonesia sesuai dalam bab II pasal 4 UU No. 2 tentang system pendidikan nasional adalah bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU No. 2/1989).
4. Etika Jabatan
Dalam pendidikan seorang guru harus mempunyai asas-asas umum yang universal yang dapat dipandang sebagai prinsip umum, seperti :
      1) Melaksanakan kewajiban dasar good will atau itikad baik dengan kesadaran pengabdian
      2) Memperlakukan siapapun, anak didik sebagai satu pribadi yang sama dengan             pribadinya sendiri.
3) Menghormati perasaan tiap orang.
      4) Selalu berusaha menyumbang ide-ide, konsepsi-konsepsi dan karya-karya      (ilmiah) demi kemajuan bidang kewajibannya
5) Akan menerima haknya semata-mata sebagai satu kehormatan
D.    Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari, dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah jiwa, ruh, dan  kepribadian system kependidikan nasional, karenanya sistem pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila, citra, dan karsa bangsa kita, dan tujuan nasional bangsa kita , atau tujuaan nasional dan cita-cita luhur rakyat Indonesia yang tertulis pada UUD 1945 sebagai perwujudan jiwa dan nilai Pancasila.
Unsur-unsur yang dapat dijadikan tunggak untukmmengembangkan pendidikan lebih lanjut ada 4, antara lain :
1. Dasar dan Tujuan
Dasar pendidikan merupakan suatu asas untuk mengembangkan bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, karena pendidikan memerlukan landasan kerja untuk member arah bagi programnya. Asas tersebut juga berfungsi sebagi peraturan yang akan digunakan sebagai pegangan hidup dan pegangan langkah pelaksanaan. Di Indonesia secara formal pendidikan mempunyai dasar yang kuat, yaitu Pancasila. Tujuan pendidikan adalah membawa anak didik agar dapat mandiri dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Jadi, dasar dan tujuan pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan bidang pendidikan menuju terbinanya kepribadian yang tinggisesuai dengan dasar persiapan pendidikan.
2. Pendidik dan Peserta Didik
Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tinakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Individu yang mampu  adalah orang dewasa yang sehat jasmani ruhani, mampu berdiri sendiri dan mampu menanggung resiko dari segala perbuatannya. Kesediaan dan kerelaan menerima tanggung jawab harus dimiliki setiap pendidik.
 Peserta didik adalah adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik fisik maupun mentalnya. Peserta didik memiliki pembawaan, dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu pendidik harus mengetahui pembawaan masing-masing anak didiknya agar layanan pendidikan yang diberikan sesuai kedaan masing-masing.
3. Kurikulum
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai murupakan faktor yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang diberikan. Tujuan pendidikan dappenglaman bat memengaruhi strategi pemilihan teknik penyajian pendidikan yang diberikan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak  didik dalam  mencapai tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan. Antara  tujuan dan  program harus serasi.
Kurikulum tidak hanya menjabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didik, tetapi juga semua kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang mempunyai pengaruh terhadap anak didik cdalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
4. Sistem Pendidikan Pelajar
Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembanganpotensi dan kemampuan anakagar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu, dan sebagai seorang warga negara / masyarakat, dengan memilih materi strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak didik.
Pengertian Sistem pendidikan adalah sistem yang dijadikan tolok ukur bagi tingkah laku manusia dalam masyarakat yang mengandung potensi mengendalikan, mengatur, dan mengarahkan, perkembangan masyarakat dalam lapangan pendidikan Oleh karena itu lembaga pendidikan perlu memberikan jawaban yang tepat sehingga kecenderungan sikapm dan berpikir masyarakat tidak terombang-ambing tanpa arah yang jelas. Jadi system pendidikan diperlukan untuk menjawab semua persoalan yang ada, khususnya di bidang kependidikan.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa filsafat pendidikan merupakan tata pola pikir terhadap permasalahan di bidang pendidikan dan pengajaran yang senantiasa mempunyai hubungan dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain yang diperluakan oleh pendidik atau guru sebagai pengajar dalam bidang studi tertentu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar